start from the end and finish at the beginning


Posting pak Jusman Syafii Djamal ttg Habibie yang berkata : start from the end and finish at the beginning …

Tigapuluh tahun lalu, ketika pertama bertemu Prof.B.J.Habibie di Nurtanio , beliau kurang lebih bilang begini :” Jusman harus bisa bedakan belajar iptek dari buku dengan membangun industri.

Kalau baca buku mulai dari halaman pertama sampai halaman terakhir, diresapi dan diberi makna setelah semuanya selesai. Jika kembangkan industri start from the end and finish at the beginning. Bermula dari akhir dan berhenti diawal mula”.

Setelah itu beliau terjunkan saya di Getafe Spanyol, ditempatkan di
hanggar pembuatan pesawat prototype Infanta Elena, P1 CN235. Kerjanya sederhana, semua permukaan pesawat “contour nya” di check, discrepancy dicatat. Saya belajar how to check fit, form and function of every single items of component. Meneliti apakah tiap komponen kendali terbang seperti ekor horisontal dan vertikal, rudder aileron dan flap telah ditempatkan secara tepat pada posisi sesuai gambarnya. Apakah ada discrepancy atau perbedaan diantara gambar produksi dengan realitasnya.

Sebab setiap perbedaan contour permukaan dan “gap yang terjadi”, pada gilirannya akan melahirkan penurunan kinerja aerodinamis komponen tersebut jika pesawat dioperasikan. Melalui tugas sederhana ini (sederhana dala lembaran perintah, tetapi amat berkeringat dan melelahkan ketika dikerjakan) beliau ingin mengirim dua pesan pada saya :

Pertama “accuracy is the foundation of engineerring”. Ketelitian adalah fondasi tiap pekerjaan.

Kedua : “You don;t just sit around dreaming up new products. Kamu tak boleh berpangku tangan dan hanya bermimpi tentang produk baru.

Membangun produk baru harus melahirkan kesempurnaan karya. Telitilah apa yang dkehendaki pelanggan, temui mereka, serap setiap rincian harapan yang diinginkan, buat skema dan gambarkan spesifikasi sesuai yang ia definisikan berikan alternatip pilihan pada mereka dan kemudian lahirkan produk baru yang tanpa cacat, persembahkan pada pelanggan.

Dalam bisnis atau membangun industri Customer is a king, pelanggan adalah raja. Tak ada raja yang mau dengan produk kelas cemen atau berantakan. Karena itu jika produk baru, sudah selesai dibuat, chek dan telitilah semua “discrepancy”, gambar teknis adalah janjimu pada pelanggan, karena itu tiap perbedaan yang menurunkan kinerja harus dicatat untuk diperbaiki. Pemahaman ini yang kemudian ditiru oleh China dalam mengembangkan kawasan industrinya. Mereka menyebutnya
dengan istilah ATM Teknologi, mendefinisikan Imitate, Adoption and Disrupt menjadi Adopsi, Tiru dan kemudian Menguasai Teknologi.

Dalam gambaran yang lebih indah Howard Schultz, pendiri Starbuck yang ditulis dalam bukunya :”Onward”, menceritakan tentang arti penghormatan pada presisi untuk melayani permintaan pelanggan.

Tahun 1983 ketika ia berkunjung ke Milan, Italia ia masuk kesebuah
kedai kopi kecil. Ketika duduk pelayan dengan ramah menyapanya : Buon Giorno. Selamat Pagi. Mau minum apa ? Setelah tau pesanan, dengan gerak anggun dan presisi seperti sedang menari pelayan tersebut kemudian menggiling biji kopi yang dipesan, menyemprotkan uap kedalam susu, menyeduh espresso, membuat cappucino dan mengobrol santai dengan setiap pelanggan yang berkeliling di meja saji. Pelayan selalu tersenyum sementara mesin espresso berdesis.

Bagi pelayan kedai kopi di Milan Italia, ketepatan dan kesempurnaan menyeduh kopi bagi pelanggan bukanlah sebuah pekerjaan yang berat melelahkan serta menguras harga diri, tetapi sebuah “gairah atau semangat untuk bercengkrama dengan sesama dan kehidupan.

Melalui interaksi dengan pelanggan yang mencintai kedai kopinya , para pelayan itu kemudian mampu melahirkan perbaikan terus menerus yang diperlukan agar kedai kopinya tetap terus didatangi pelanggan
setianya. Dari sana ia mendapatkan nafkah hidup untuk kelangsungan mimpi dan cita citanya.

Karena itu pengalaman minum kopi di Milan, Italia, oleh Howard Schulzt dijadikan spirit untuk melahirkan ribuan kedai kopi serupa.

Dimana minum kopi bukan sekedar jeda melepas lelah, melainkan sebuah teater kehidupan. Presisi dan semangat melayani pelanggan dengan sempurna, dihadirkannya dalam setiap kedai kopi. Kini pelanggan bukan lagi orang asing melainkan teman bercanda dan hidup menjadi sebuah komunitas yang saling berinteraksi.

Apa yang dialami oleh Shultz tahun 1983 sebenarnya sudah terjadi di Aceh sejak tahun 70 an, dimana ditiap warung kopi semua orang akan berdiskusi tentang segala hal dari berita radio, surat kabar hingga berita tentang sakit tetangga. Kini sudah banyak kita bisa menemukan kedai kopi seperti itu di Jakata, Bakoel Koffie, Kopi Tiam Pematang Siantar, Ulekareng serta banyak lagi yang lain.

Membaca buku dimulai dari halaman pertama. Mendirikan usaha bisnis dimulai dari ujung akhir yakni melayani dan mengetahui keinginan pelanggan dengan tepat dan sempurna, Start from the end and finish at the beginning. Sebuah filsafat sederhana dari B.J.Habibie yang hingga kini masih relevan diterapkan.

Salam,
Cahyo Darujati.
http://blog.cahyo.web.id/

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s